
Onah.
SUARA itu, suara sesuatu yang bulat, yang padat melantak lempeng yang pipih, berulang menyerbunya. Mencucuk gendang telinganya. Onah seperti mendengar kembali suara dentuman. Mula-mula di kejauhan, lalu makin mendekat, makin merapat. Ia merasa tanah di sekitarnya kembali bergetar dan tubuhnya kembali gemetar. Dan, kecemasan itu perlahan mulai tumbuh di kulit wajahnya. Akarnya yang serabut saling bertemu, saling berpilin di bawah kulit wajahnya. Seperti dulu.
Ketika itu, ia masih gadis kecil yang merangkak remaja dengan sepasang dada mulai membungkal dalam warna merah kesumba. Sepekan sebelum suara dentuman itu, ia melihat karung-karung pasir ditumpuk hingga setinggi bahu orang dewasa. Karung-karung pasir itu membentuk pagar, berjajar dengan garis pantai. Sungguh, ia membenci pagar pasir itu. Sejak pagar pasir itu ada, ia jadi terhalang ke pantai. Ia hanya bisa membayangkan pantai lewat angin pagi-petang yang berkesiur di balkon rumah mereka, dan melamunkan dirinya jadi cadik yang kurus yang diayun gedebur ombak Purus. Atau, membayangkan membuat rumah-rumahan dengan jalan-jalan dari pecahan kulit kerang.
Sungguh, ia begitu membenci pagar pasir itu. Sejak pagar pasir itu melintang, berjajar dengan garis pantai, seperti ada palang, ada penghalang yang membuat bapak jadi jarang pulang. Sehari sebelum suara dentuman itu, bapak muncul di pintu kamarnya, dan itu terakhir kalinya ia melihat bapak. Bapak mendekat, duduk di bibir dipan, di sisinya. Mengusap rambut dan mencium dahinya. Tak ada kata yang keluar dari mulut bapak. Ia hanya menemu mata bapak seperti ceruk pasir pantai yang digenangi air. Tak lama setelah bapak pergi, ibu menyuruhnya berkemas. Ibu mengatakan mereka akan pindah ke rumah acik, adik laki-laki ibunya. Kemudian, acik datang, dan gegas membawa mereka. Lalu, esok itu pun datang dalam suara dentuman.
Di tengah suara dentuman, hiruk orang-orang, bunyi klakson dan tangis dan erang yang saling meningkahi, mereka menjadi burung-burung laut yang bermigrasi. Mengungsi, mencari daratan, tepian yang lain. Ia ingin menanyakan kepada ibu ke mana bapak dan ke mana mereka akan pergi, tapi ia urung menanyakannya saat menemu mata ibu yang kuyu dengan bibir yang bergetar menyeru nama tuhan. Ia hanya memeluk ibu di atas kendaraan yang terseok-seok, di atas jalanan yang menanjak dan berkelok. Menjelang petang, mereka tiba di Bukittinggi, menumpang di rumah keluarga suami eteknya. Tapi, tak sempat mereka bermalam di sana. Mereka kembali berangkat dengan keluarga pak eteknya ikut bersama mereka.
Ia, gadis kecil yang merangkak remaja dengan sepasang dada mulai membungkal dalam warna merah kesumba, lagi-lagi tak tahu ke mana orang-orang menuju. Ia hanya melihat jalanan dengan cahaya bulan jatuh di punggung gunung, di atap-atap rumah dan petak-petak sawah. Sepanjang tanjakan, sepanjang penurunan, ia hanya bisa melamunkan menjadi seekor burung malam. Terbang di atas jalanan berkelok, lantas hilang ke balik tebing yang curam. Ia ingat saat mereka mulai memasuki Lubang Kalam. Ia memeluk ibu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, menghalau bayangan bahwa mereka akan terperangkap, tersekap di lubang yang sengap. Begitu pun saat mereka melewati Kelok Nona, atau saat merayapi Pendakian 17, ia menyurukkan kepalanya ke bawah ketiak ibu, menyembunyikan pikirannya dari dihinggapi bayangan bahwa mereka akan terperosok, jatuh, dan pecah seperti gerabah di dasar lembah.
Onah juga masih mengingat saat rombongan mereka baru saja tiba di Pelayangan, sedang menunggu giliran menyeberang. Malam itu, ia terserang demam. Tubuhnya menggigil. Di dalam kendaraan, ibu rapat memeluknya. Menyelubungi tubuh mereka berdua dengan selimut tebal. Ibu membuka bajunya, kemudian menyusul membuka bajunya sendiri. Di balik selimut, mereka berdua sama-sama bertelanjang dada. Ia jelas merasakan kulit dada ibu rapat ke dadanya yang baru membungkal.
"Seperti ini, dulu, Ibu mengobati Onah kalau demam tinggi. Bapak paling benci melihat ini. Bapak lebih suka menyerahkan Onah ke temannya yang jadi dokter di Gantiang. Bapakmu tidak tahu, Onah, cinta seorang ibu kadang lebih mujarab dari segala macam obat," ujar ibu waktu itu sembari rapat mendekapnya. Sesaat kemudian, ia merasakan hangat menjalar memasuki pori-porinya, dan ia pun larut dalam lelap.
Esoknya, ia baru terjaga. Saat itu, hari sudah terang dan mereka sudah berada di seberang, di tempat yang, baru beberapa tahun kemudian ia tahu, bernama Bangkinang. Ia tak tahu berapa jumlah orang-orang yang berkumpul ketika itu. Jumlahnya sangat banyak, lebih banyak dari yang ia lihat di antrean Palayangan. Namun, kembali ia merasakan kecemasan tumbuh di wajah orang-orang. Lamat ia dengar, Pekanbaru juga didaram suara dentuman. Dan, entah siapa yang memulai, seperti serentak, seperti didesak entah kecemasan, entah ketakutan, orang-orang mengambil jalan setapak. Merambah belukar, menyusup ke dalam hutan.
Sebagian laki-laki di depan, sebagian yang lain di barisan belakang. Mereka menjadi garis. Seperti garis yang dibuatnya tanpa penggaris di atas selembar kertas gambar. Garis yang gemetar. Garis orang-orang di bawah rimbun pepohonan dengan cahaya matahari yang ia bayangkan seperti mata bapak. Mata bapak yang menatapnya tanpa suara. Dan, entah sudah berapa lama berjalan, akhirnya mereka menemu jalan yang, didengarnya entah dari mulut siapa, dibuat dari tumpahan minyak mentah. Di sisi jalan, ada sesulur baja yang besarnya lebih dari lingkar pohon kelapa. "Kita akan pergi ke ujung jalan itu, ke tempat yang jauh dari perang," begitu ujar ibu. Ketika itulah, ia mulai memahami apa yang tengah terjadi.
Onah menyandarkan punggung tuanya. Bulatan rotan terasa beradu dengan tulang punggungnya. Sinar matahari jatuh di teras. Membuat kilau pada pualam. "Tang... tang... tang....," kembali suara dari arah rumah kayu di mulut gang datang. Bersama kilau matahari pada pualam, suara itu seperti mata peniti yang menembus kain dasternya, mencucukkan rasa nyeri ke dalam pori-pori. Onah merasa kecemasan mulai tumbuh kembali di kulit wajahnya. Akarnya yang serabut mulai saling bertemu, saling berpilin di balik kulit wajahnya.
Suara itu, suara sesuatu yang bulat, yang padat melantak lempeng yang pipih, mulai muncul sejak sepekan ini. Tepatnya, sejak si Asril, anak lelakinya yang bungsu, mengontrakkan rumah di pojok gang itu kepada si pembuat parang, arit, pisau, dan sejenisnya. Sejak awal, saat si pembuat parang, arit, pisau, dan sejenisnya datang, menyampaikan maksud hendak mengontrak rumah kayu itu, Onah sudah tidak setuju. Bahkan, ia sudah jelas-jelas melarang Asril mengontrakkan rumah itu. Tapi, anaknya justru memberikan pilihan yang sulit baginya: rumah itu dikontrakkan atau dijual.
Alasan anaknya, dengan dikontrakkan berarti tidak perlu lagi mengeluarkan uang untuk mengupah orang membersihkan rumah itu. Dengan dikontrakkan juga berarti ada tambahan pemasukan. Sementara baginya, dengan dikontrakkan tentu ia tak lagi leluasa menengok rumah itu. Saban pagi, ia biasa memutarinya, meraba tiap jengkal pekarangan, mencium aroma tanah dan tiap keping kisah yang terjejak di sana. Memandang ke jurusan kolam, ke kangkung, genjer, dan kelebat tiap kejadian yang kekal tersimpan di dasarnya.
“Ibu kan masih bisa menengok rumah itu kapan pun Ibu mau,” jawab Asril ringan. Ah, bagi Asril, rumah itu tentu tidak lebih dari masa lalu. Dia tentu sulit untuk mengerti bahwa baginya rumah itu adalah penawar masa lalu yang terus hidup di bawah kulit wajahnya. Di rumah itulah, ia, ibu, dan mendiang suaminya tidak sekadar menemukan sebentang tanah dengan seonggok rumah, tetapi juga menemukan kata pulang setelah sekian lama terbuang oleh perang.
"Inilah tempat pulang kita. Tanah air dan tanah asal yang sesungguhnya. Semoga rumah ini jadi tiruan surga yang ada di sana," begitu cakap suaminya saat mereka mulai menempati rumah itu. Rumah itu mereka bangun dengan uang tabungan yang ia sisihkan dari gaji suaminya, ditambah bantuan dari perusahaan tempat suaminya bekerja. Rumah kayu dengan satu kolam di pekarangan belakang, ditambah dua batang seri, satu jambu klutuk, dan sawo, juga beberapa pinang dan gerumbul buluh cina. Sebelum ada rumah itu, tiga tahun mereka mengontrak di Sebanga. Suaminya menolak fasilitas rumah yang disediakan di Kompleks Singgalang. Ia tak tahu pasti alasan suaminya. Mungkin, karena ia seorang Soekarnois seperti yang berulang kali dinyatakannya. Tapi, entahlah. Sampai kini, ia belum juga mengerti apa kaitan antara suaminya yang Soekarnois dengan sikap penolakannya.
Suaminya memang seorang Seokarnois. Tepatnya, Soekarnois dengan mimpi-mimpi terberai seperti merang di ladang. Suaminya sangat paham ajaran Soekarno. Entahlah, mungkin sebab itu, suaminya meninggalkan bangku kuliah, memilih bergabung dalam barisan relawan, ikut dalam proyek konfrontasi, mengganyang kaki tangan imperialis di Semenanjung. Tapi, seperti yang diceritakan suaminya, semua berakhir tidak menyerupa gambaran ketika hendak dimulai. Perang meletup, lalu redup. Lebih menyerupa permainan anak-anak. Suaminya pulang, menyeberangi Selat Melaka dengan tongkang dan rakit. Pulang dalam pakaian serdadu, dalam barisan terakhir yang sudah kocar-kacir. Suaminya masih terus menyimpan seragam serdadu itu. Kini, seragam itu tergantung di lemari pakaian mereka, di dalam kamarnya. Menemani seragam satu lagi yang sudah lapuk dimakan usia.
"Di sana, tak ada kaki tangan imperialis. Yang banyak itu, di sini!" Cakap suami itu begitu diingat Onah. Cakap yang sepekan kemudian disusul dengan akad nikah mereka. Pertemuan mereka bermula saat pembangunan Menara Pompa, atau orang-orang biasa menyebutnya Menara Angguk karena mirip kepala yang mengangguk-angguk. Selama pembangunan Menara Angguk, saban pagi, ia mengawani ibu berjualan. Kebetulan lokasinya tak jauh dari tempat mereka tinggal. Dan, nyaris saban pagi, ia bertemu dengan lelaki yang minta dibuatkan kopi dengan gula Jawa.
Lelaki itu, oleh teman-temannya, biasa dipanggil Sar. Nama lengkapnya Sarotama. Entah, sampai kini, ia tak tahu pasti apa arti nama itu. Setelah mereka berdua resmi jadi suami istri, soal arti nama itu sempat ia tanyakan, tepatnya setelah melepas hajat di malam pertama mereka. Dari mulut suaminya, ia dengar nama itu adalah nama keris Pangeran Diponegoro. Hanya itu yang ia tahu. Bahkan, saat ia menemukan di depan nama suaminya ada singkatan "RM", dan menanyakan apa artinya, suaminya hanya menjawab, "Itu cuma omong kosong, Onah."
"Masuklah, Bu. Matahari sudah tinggi. Tak baik berpanas-panas di teras. Sakit Ibu nanti kambuh, awak pula yang dimarahi, bang Asril."
Onah menoleh ke menantunya yang berdiri di mulut pintu dengan perut yang membuncit. Ia mengangguk pelan, dan dengan berat beranjak dari kursi rotan. Onah mengambil tongkatnya, berjalan lambat meninggalkan teras, mengikuti menantunya yang telah lebih dulu masuk ke dalam rumah. Sekilas, Onah melihat ke perut menantunya. Paling lama dua pekan ke depan, dia sudah melahirkan, duga Onah sembari menguakkan pintu kamarnya. Ia akan punya cucu lagi. Onde, sudah berapa anak si Asril kini, pikir Onah sembari merebahkan tubuhnya ke dipan.
Onah menyusupkan kakinya ke bawah selimut. Entah mengapa tiba-tiba Onah merasakan dingin merayapi jejari kakinya, terus naik ke paha, perut, dada, leher dan wajahnya. Dingin yang mengundang gigil seperti saat ia deman dulu. Onah menarik selimut sampai ke bawah dagu. Membuka daster, melepas kutang, membiarkan tubuh bagian atasnya terbuka di bawah selimut. Tak berapa lama kemudian, Onah merasakan hangat di kulit dadanya. Seperti dulu, hangat itu perlahan menyusup ke dalam pori-pori. Menjalar. Melebar. Dan, Onah pun larut dalam lelap. Selamanya.





