Thursday, March 22, 2007

CERPEN~Onah.


Onah.

SUARA itu, suara sesuatu yang bulat, yang padat melantak lempeng yang pipih, berulang menyerbunya. Mencucuk gendang telinganya. Onah seperti mendengar kembali suara dentuman. Mula-mula di kejauhan, lalu makin mendekat, makin merapat. Ia merasa tanah di sekitarnya kembali bergetar dan tubuhnya kembali gemetar. Dan, kecemasan itu perlahan mulai tumbuh di kulit wajahnya. Akarnya yang serabut saling bertemu, saling berpilin di bawah kulit wajahnya. Seperti dulu.

Ketika itu, ia masih gadis kecil yang merangkak remaja dengan sepasang dada mulai membungkal dalam warna merah kesumba. Sepekan sebelum suara dentuman itu, ia melihat karung-karung pasir ditumpuk hingga setinggi bahu orang dewasa. Karung-karung pasir itu membentuk pagar, berjajar dengan garis pantai. Sungguh, ia membenci pagar pasir itu. Sejak pagar pasir itu ada, ia jadi terhalang ke pantai. Ia hanya bisa membayangkan pantai lewat angin pagi-petang yang berkesiur di balkon rumah mereka, dan melamunkan dirinya jadi cadik yang kurus yang diayun gedebur ombak Purus. Atau, membayangkan membuat rumah-rumahan dengan jalan-jalan dari pecahan kulit kerang.

Sungguh, ia begitu membenci pagar pasir itu. Sejak pagar pasir itu melintang, berjajar dengan garis pantai, seperti ada palang, ada penghalang yang membuat bapak jadi jarang pulang. Sehari sebelum suara dentuman itu, bapak muncul di pintu kamarnya, dan itu terakhir kalinya ia melihat bapak. Bapak mendekat, duduk di bibir dipan, di sisinya. Mengusap rambut dan mencium dahinya. Tak ada kata yang keluar dari mulut bapak. Ia hanya menemu mata bapak seperti ceruk pasir pantai yang digenangi air. Tak lama setelah bapak pergi, ibu menyuruhnya berkemas. Ibu mengatakan mereka akan pindah ke rumah acik, adik laki-laki ibunya. Kemudian, acik datang, dan gegas membawa mereka. Lalu, esok itu pun datang dalam suara dentuman.

Di tengah suara dentuman, hiruk orang-orang, bunyi klakson dan tangis dan erang yang saling meningkahi, mereka menjadi burung-burung laut yang bermigrasi. Mengungsi, mencari daratan, tepian yang lain. Ia ingin menanyakan kepada ibu ke mana bapak dan ke mana mereka akan pergi, tapi ia urung menanyakannya saat menemu mata ibu yang kuyu dengan bibir yang bergetar menyeru nama tuhan. Ia hanya memeluk ibu di atas kendaraan yang terseok-seok, di atas jalanan yang menanjak dan berkelok. Menjelang petang, mereka tiba di Bukittinggi, menumpang di rumah keluarga suami eteknya. Tapi, tak sempat mereka bermalam di sana. Mereka kembali berangkat dengan keluarga pak eteknya ikut bersama mereka.

Ia, gadis kecil yang merangkak remaja dengan sepasang dada mulai membungkal dalam warna merah kesumba, lagi-lagi tak tahu ke mana orang-orang menuju. Ia hanya melihat jalanan dengan cahaya bulan jatuh di punggung gunung, di atap-atap rumah dan petak-petak sawah. Sepanjang tanjakan, sepanjang penurunan, ia hanya bisa melamunkan menjadi seekor burung malam. Terbang di atas jalanan berkelok, lantas hilang ke balik tebing yang curam. Ia ingat saat mereka mulai memasuki Lubang Kalam. Ia memeluk ibu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, menghalau bayangan bahwa mereka akan terperangkap, tersekap di lubang yang sengap. Begitu pun saat mereka melewati Kelok Nona, atau saat merayapi Pendakian 17, ia menyurukkan kepalanya ke bawah ketiak ibu, menyembunyikan pikirannya dari dihinggapi bayangan bahwa mereka akan terperosok, jatuh, dan pecah seperti gerabah di dasar lembah.

Onah juga masih mengingat saat rombongan mereka baru saja tiba di Pelayangan, sedang menunggu giliran menyeberang. Malam itu, ia terserang demam. Tubuhnya menggigil. Di dalam kendaraan, ibu rapat memeluknya. Menyelubungi tubuh mereka berdua dengan selimut tebal. Ibu membuka bajunya, kemudian menyusul membuka bajunya sendiri. Di balik selimut, mereka berdua sama-sama bertelanjang dada. Ia jelas merasakan kulit dada ibu rapat ke dadanya yang baru membungkal.

"Seperti ini, dulu, Ibu mengobati Onah kalau demam tinggi. Bapak paling benci melihat ini. Bapak lebih suka menyerahkan Onah ke temannya yang jadi dokter di Gantiang. Bapakmu tidak tahu, Onah, cinta seorang ibu kadang lebih mujarab dari segala macam obat," ujar ibu waktu itu sembari rapat mendekapnya. Sesaat kemudian, ia merasakan hangat menjalar memasuki pori-porinya, dan ia pun larut dalam lelap.

Esoknya, ia baru terjaga. Saat itu, hari sudah terang dan mereka sudah berada di seberang, di tempat yang, baru beberapa tahun kemudian ia tahu, bernama Bangkinang. Ia tak tahu berapa jumlah orang-orang yang berkumpul ketika itu. Jumlahnya sangat banyak, lebih banyak dari yang ia lihat di antrean Palayangan. Namun, kembali ia merasakan kecemasan tumbuh di wajah orang-orang. Lamat ia dengar, Pekanbaru juga didaram suara dentuman. Dan, entah siapa yang memulai, seperti serentak, seperti didesak entah kecemasan, entah ketakutan, orang-orang mengambil jalan setapak. Merambah belukar, menyusup ke dalam hutan.

Sebagian laki-laki di depan, sebagian yang lain di barisan belakang. Mereka menjadi garis. Seperti garis yang dibuatnya tanpa penggaris di atas selembar kertas gambar. Garis yang gemetar. Garis orang-orang di bawah rimbun pepohonan dengan cahaya matahari yang ia bayangkan seperti mata bapak. Mata bapak yang menatapnya tanpa suara. Dan, entah sudah berapa lama berjalan, akhirnya mereka menemu jalan yang, didengarnya entah dari mulut siapa, dibuat dari tumpahan minyak mentah. Di sisi jalan, ada sesulur baja yang besarnya lebih dari lingkar pohon kelapa. "Kita akan pergi ke ujung jalan itu, ke tempat yang jauh dari perang," begitu ujar ibu. Ketika itulah, ia mulai memahami apa yang tengah terjadi.

Onah menyandarkan punggung tuanya. Bulatan rotan terasa beradu dengan tulang punggungnya. Sinar matahari jatuh di teras. Membuat kilau pada pualam. "Tang... tang... tang....," kembali suara dari arah rumah kayu di mulut gang datang. Bersama kilau matahari pada pualam, suara itu seperti mata peniti yang menembus kain dasternya, mencucukkan rasa nyeri ke dalam pori-pori. Onah merasa kecemasan mulai tumbuh kembali di kulit wajahnya. Akarnya yang serabut mulai saling bertemu, saling berpilin di balik kulit wajahnya.

Suara itu, suara sesuatu yang bulat, yang padat melantak lempeng yang pipih, mulai muncul sejak sepekan ini. Tepatnya, sejak si Asril, anak lelakinya yang bungsu, mengontrakkan rumah di pojok gang itu kepada si pembuat parang, arit, pisau, dan sejenisnya. Sejak awal, saat si pembuat parang, arit, pisau, dan sejenisnya datang, menyampaikan maksud hendak mengontrak rumah kayu itu, Onah sudah tidak setuju. Bahkan, ia sudah jelas-jelas melarang Asril mengontrakkan rumah itu. Tapi, anaknya justru memberikan pilihan yang sulit baginya: rumah itu dikontrakkan atau dijual.

Alasan anaknya, dengan dikontrakkan berarti tidak perlu lagi mengeluarkan uang untuk mengupah orang membersihkan rumah itu. Dengan dikontrakkan juga berarti ada tambahan pemasukan. Sementara baginya, dengan dikontrakkan tentu ia tak lagi leluasa menengok rumah itu. Saban pagi, ia biasa memutarinya, meraba tiap jengkal pekarangan, mencium aroma tanah dan tiap keping kisah yang terjejak di sana. Memandang ke jurusan kolam, ke kangkung, genjer, dan kelebat tiap kejadian yang kekal tersimpan di dasarnya.

“Ibu kan masih bisa menengok rumah itu kapan pun Ibu mau,” jawab Asril ringan. Ah, bagi Asril, rumah itu tentu tidak lebih dari masa lalu. Dia tentu sulit untuk mengerti bahwa baginya rumah itu adalah penawar masa lalu yang terus hidup di bawah kulit wajahnya. Di rumah itulah, ia, ibu, dan mendiang suaminya tidak sekadar menemukan sebentang tanah dengan seonggok rumah, tetapi juga menemukan kata pulang setelah sekian lama terbuang oleh perang.

"Inilah tempat pulang kita. Tanah air dan tanah asal yang sesungguhnya. Semoga rumah ini jadi tiruan surga yang ada di sana," begitu cakap suaminya saat mereka mulai menempati rumah itu. Rumah itu mereka bangun dengan uang tabungan yang ia sisihkan dari gaji suaminya, ditambah bantuan dari perusahaan tempat suaminya bekerja. Rumah kayu dengan satu kolam di pekarangan belakang, ditambah dua batang seri, satu jambu klutuk, dan sawo, juga beberapa pinang dan gerumbul buluh cina. Sebelum ada rumah itu, tiga tahun mereka mengontrak di Sebanga. Suaminya menolak fasilitas rumah yang disediakan di Kompleks Singgalang. Ia tak tahu pasti alasan suaminya. Mungkin, karena ia seorang Soekarnois seperti yang berulang kali dinyatakannya. Tapi, entahlah. Sampai kini, ia belum juga mengerti apa kaitan antara suaminya yang Soekarnois dengan sikap penolakannya.

Suaminya memang seorang Seokarnois. Tepatnya, Soekarnois dengan mimpi-mimpi terberai seperti merang di ladang. Suaminya sangat paham ajaran Soekarno. Entahlah, mungkin sebab itu, suaminya meninggalkan bangku kuliah, memilih bergabung dalam barisan relawan, ikut dalam proyek konfrontasi, mengganyang kaki tangan imperialis di Semenanjung. Tapi, seperti yang diceritakan suaminya, semua berakhir tidak menyerupa gambaran ketika hendak dimulai. Perang meletup, lalu redup. Lebih menyerupa permainan anak-anak. Suaminya pulang, menyeberangi Selat Melaka dengan tongkang dan rakit. Pulang dalam pakaian serdadu, dalam barisan terakhir yang sudah kocar-kacir. Suaminya masih terus menyimpan seragam serdadu itu. Kini, seragam itu tergantung di lemari pakaian mereka, di dalam kamarnya. Menemani seragam satu lagi yang sudah lapuk dimakan usia.

"Di sana, tak ada kaki tangan imperialis. Yang banyak itu, di sini!" Cakap suami itu begitu diingat Onah. Cakap yang sepekan kemudian disusul dengan akad nikah mereka. Pertemuan mereka bermula saat pembangunan Menara Pompa, atau orang-orang biasa menyebutnya Menara Angguk karena mirip kepala yang mengangguk-angguk. Selama pembangunan Menara Angguk, saban pagi, ia mengawani ibu berjualan. Kebetulan lokasinya tak jauh dari tempat mereka tinggal. Dan, nyaris saban pagi, ia bertemu dengan lelaki yang minta dibuatkan kopi dengan gula Jawa.

Lelaki itu, oleh teman-temannya, biasa dipanggil Sar. Nama lengkapnya Sarotama. Entah, sampai kini, ia tak tahu pasti apa arti nama itu. Setelah mereka berdua resmi jadi suami istri, soal arti nama itu sempat ia tanyakan, tepatnya setelah melepas hajat di malam pertama mereka. Dari mulut suaminya, ia dengar nama itu adalah nama keris Pangeran Diponegoro. Hanya itu yang ia tahu. Bahkan, saat ia menemukan di depan nama suaminya ada singkatan "RM", dan menanyakan apa artinya, suaminya hanya menjawab, "Itu cuma omong kosong, Onah."

"Masuklah, Bu. Matahari sudah tinggi. Tak baik berpanas-panas di teras. Sakit Ibu nanti kambuh, awak pula yang dimarahi, bang Asril."

Onah menoleh ke menantunya yang berdiri di mulut pintu dengan perut yang membuncit. Ia mengangguk pelan, dan dengan berat beranjak dari kursi rotan. Onah mengambil tongkatnya, berjalan lambat meninggalkan teras, mengikuti menantunya yang telah lebih dulu masuk ke dalam rumah. Sekilas, Onah melihat ke perut menantunya. Paling lama dua pekan ke depan, dia sudah melahirkan, duga Onah sembari menguakkan pintu kamarnya. Ia akan punya cucu lagi. Onde, sudah berapa anak si Asril kini, pikir Onah sembari merebahkan tubuhnya ke dipan.

Onah menyusupkan kakinya ke bawah selimut. Entah mengapa tiba-tiba Onah merasakan dingin merayapi jejari kakinya, terus naik ke paha, perut, dada, leher dan wajahnya. Dingin yang mengundang gigil seperti saat ia deman dulu. Onah menarik selimut sampai ke bawah dagu. Membuka daster, melepas kutang, membiarkan tubuh bagian atasnya terbuka di bawah selimut. Tak berapa lama kemudian, Onah merasakan hangat di kulit dadanya. Seperti dulu, hangat itu perlahan menyusup ke dalam pori-pori. Menjalar. Melebar. Dan, Onah pun larut dalam lelap. Selamanya.

CERPEN~Rie dan Rei.


Rie dan Rei.

"Patah hati lagi, Rei?"

"Kau sendiri bagaimana Rie?"

Lalu keduanya berkata bersamaan: "Ya.. pencarian dan pengembaraan masih berlanjut. Mari kita makan satu atau dua mangkuk nyuknyang (1) untuk merayakannya.

***

(13:15 di arloji Rei)

Rie tidak berubah. Ia tetap perempuan pengembara dengan pijar mata sesejuk embun. Mata pemimpi. Ia selalu pergi, tapi selalu kembali ke kota ini membawa cerita. Ia belum meninggalkan kebiasaannya mempermainkan ujung sapu tangan saat bertutur tentang romansa yang mengadukkan mimpi dan kenyataan. Ia berkisah tentang langit ungu tua dan bintang kuning seperti titik cahaya petromaks. Tentang sejarah yang seharusnya ditengok kembali. Kali ini ia membawa kisah cinta yang kandas di the Forbidden City.(2)

"Mengapa tidak membawa tisu yang lebih praktis, Rie?" tanyaku sambil memandangi ujung saputangannya yang kusut terpelintir.

"Ah, apa kamu lupa betapa aku mencintai sapu tangan sejak kecil? Tisu tidak mungkin menyimpan kenangan apa-apa. Sekali pakai, lapuk, lalu dibuang. Sapu tangan setia memelihara semua kisah, Rei. Kadang ia menjadi asin karena air mata dan di lain waktu, ia bertabur wangi karena kusemprot parfum menunggu kekasih yang akan menjemput."

***

(13:15 di arloji Rie)

Rei tetap jiwa yang tabah sekaligus melankolis. Laki-laki yang tidak pernah mengeluh meski nasib baik belum juga berpihak. Ya, lagi pula mengapa harus mengutuki nasib. Mengapa tidak merayakannya saja? Bukankah menabrakkan logika dengan imajinasi, telah terbukti bisa mengurangi rasa sedih dan menghadirkan kegirangan yang ganjil? Ia mengajariku, sekali-kali kami perlu ke restoran memesan rasa lapar.(3) Atau sekali-kali bersikeras tetap masih berada di Januari, ketika penanggalan telah berlari ke Februari.

Ia tetap di sini. Tidak ingin ke mana-mana. Suatu saat, pasti ada satu cinta di kota ini untukku, katanya berkali-kali. Dari mana gerangan keyakinan itu diperolehnya? Rei percaya pencariannya akan berujung, dan selalu tak jera ia mencoba. Terbentur. Mencoba lagi. Terbentur lagi.

Laki-laki yang melahirkan puisi, dengan kepekaan dan kekuatan, dengan gemuruh dan dendam, dengan percintaan yang selalu patah tapi ia tidak pernah jera.

***

Di sebuah warung kecil di kawasan Panakkukang, mereka memesan dua mangkuk nyuknyang. Bola-bola daging kenyal berwarna abu-abu yang mengapung di kuah panas, di antara serpihan bawang goreng dan daun seledri adalah kebahagiaan bagi keduanya. Menu sederhana kegemaran sejak kecil untuk merayakan sebuah pertemuan tahunan. Inilah ritual mereka.

"Mengapa perempuan itu meninggalkanmu, Rei?"

"Klise. Sangat klise. Cintaku bukan sebuah masa depan. Itu kata bapaknya."

"Kata bapaknya?"

"Ya...kata bapaknya."

"Lalu apa kata perempuan itu?"

"Ia ikut kata Bapaknya...."

***

(13:45 di arloji Rie)

Cinta Rei tidak mungkin menjelma masa depan yang baik. Mengapa semua bapak dari perempuan yang membalas cintanya mempercayai asumsi ini? Aku menyaksikan Rei sebagai seorang penyair yang tertatih-tatih di lumbung beras, sarang para saudagar kaya mengukur kemuliaan hidup dari gemerincing pundi semata. Betapa malang. Betapa sayang. Aku membayangkan Rei menjelma menjadi pegawai bank, dosen, pengurus partai politik atau apalah yang semacamnya, setiap kali ia jatuh cinta. Dengan begitu, perempuan yang membalas cintanya berani membayangkan masa depan dan mengajaknya berbicara tentang perkawinan.

Di lumbung beras ini, puisi Rei tetap diakui keindahannya, tapi puisi tidak masuk dalam daftar kekayaan, bukan sebuah unit produksi. Tak mungkin kau hidupi perempuan dengan kata-kata, Rei, meski bisa kau luluhkan hatinya dengan selusin sajak. Kecuali bila kita berandai-andai bahwa penyair yang memberi makanan bagi jiwa seluruh rakyat, digaji oleh negara karena berjasa menjadi penjaga nurani, pengawal moral bangsa. Ups! Sebuah andai-andai yang keterlaluan, tentu saja...

***

Mereka berseru kepada penjual nyuknyang yang berdiri di pintu warung. Mereka mengenalnya dengan baik, namanya Minggu. Laki-laki asal Tana Toraja yang selalu menyampirkan handuk kecil di bahu kanannya. Rei dan Rie termasuk orang yang tidak percaya desas-desus bahwa Minggu menggunakan handuk yang sama untuk mengelap keringat dan mengelap mangkuk nyuknyang untuk para pelanggan. Meski setiap kali melihat handuk di bahu Minggu, keduanya akan saling bertatapan dan teringat lagi pada desas-desus itu.

"Minggu, tambah dua mangkuk. Satu campur. Satu halus!<4>"

Rei meneriakkan pesanan tambahan.

Rie mendekatkan kepalanya ke arah Rei dan bicara dengan suara yang direndahkan.

"Eh, kalau Minggu patah hati, ia juga akan mengusap air matanya dengan handuk itu...."

Mereka tertawa, seperti dua orang tolol yang baru menemukan lelucon baru.

Bola-bola daging kenyal berwarna abu-abu yang mengapung di kuah panas, di antara serpihan bawang goreng dan daun seledri membuat keduanya kembali berbahagia melanjutkan perayaan pertemuan.

"Bagaimana Beijing, Rie?"

"Penuh sesak tapi eksotis. Aku melancong menggunakan nama Fasciola. Hm, selalu saja aku bebas setiap kali menjadi bukan diriku. "

"Kamu masih sering aneh begitu, Rie?"

"Aku selalu tidak ingin menjadi aku."

"Fasciola?"

"Nama cacing, Rei. Fasciola hepatica, cacing hati yang menggerogoti tubuh...".

"Cacing?"

"Sekali-kali menjadi cacing tidak apa bukan? Makhluk kecil tak ada nilainya, menjijikkan."

"Ada yang jatuh cinta pada Fasciola?"

"Tentu saja ada. Namanya Raphael. Laki-laki dari Sisilia. Pemuja Mao yang merengek-rengek minta ditemani berfoto di Lapangan Tiananmen dan berkeliling di kompleks the Forbidden City. Ia aktivis Green Peace yang sudah dua tahun pantang minum Coca-cola. Aku mengaku penentang rekayasa genetik. Klop, bukan?"

"Sebuah affair yang biasa?"

"Sebuah affair tanpa prospek. Tapi tak apa...."

***

(13:59 di arloji Rei)

Di manakah ujung pencarianmu, Rie? Pengembaraan menjadi orang lain. Pelarian penuh kepalsuan berganti-ganti nama. Mimpi yang terus diaduk dengan kenyataan. Kepribadian yang terbelah-belah diguncang realita. Kau pernah mengeluhkan dirimu sebagai perempuan dengan empat rantai pasungan yang tidak mungkin bisa kau lepas. Pasungan pertama: jangan jatuh cinta pada sembarang laki-laki. Pasungan kedua: jaga kehormatan dan nama baik keluarga. Pasungan ketiga: cari laki-laki yang segolongan, seagama, sederajat kalau perlu lebih kaya. Pasungan keempat: jangan pergi jauh, jodohmu telah diatur keluarga.

Ah, putri bangsawan yang frustrasi. Pemberontak kecil yang tak berhenti melawan. Pewaris berhektar sawah dan kebun yang mengeluh miskin kebebasan. Sampai kapan mengembara, Rie? Sampai kapan? Dulu kau pernah berkata, mungkin nasibku berakhir seperti tiga kakak perempuan Bapak yang tetap menjadi perawan tua karena setia pada pasungan berlapis-lapis itu.

Tapi tak apa. Setidaknya ada percintaan dan romansa sesaat di banyak tempat, yang bisa kukenang, katamu menghibur jiwamu sendiri.

***

"Kau memikirkan aku, Rei?"

"Kau sendiri?"

"Aku mengkhawatirkanmu."

"Sama. Aku juga mengkhawatirkanmu."

Keduanya bersitatap. Ada kegetiran yang tidak bisa lagi ditutup-tutupi, tapi mereka bersikeras untuk tidak mengakuinya. Mereka memaksakan diri untuk tertawa.

Dua sahabat masa kecil yang setia menabrak-nabrakkan mimpi pada kenyataan itu, terus tertawa. Keriangan yang ganjil.

Menuntaskan perayaan pertemuan itu, Rei menghadiahkan puisi pendek untuk Rie:

"Aku memilih bertahan di cahaya senja, tak hendak ikut beranjak ke gelap malam."

"Ke mana setelah ini, Rie?"

"Hm, kembali ke Singapura. Kalau ada uang lebih, mungkin akan ke Kathmandu..."

"Kapan ke sini lagi?"

"Tahun depan. Dan doakan aku punya cerita cinta yang...."

Keduanya tertawa lagi. Getir. (*)

Tokyo, 3 Maret 2006 00:58 am.

Catatan Kaki:

(1) Nyuknyang: sejenis bakso khas Makassar, yang lebih kenyal dan lebih halus dari bakso umumnya.

(2) The Forbidden City adalah salah satu objek wisata utama di Kota Beijing yang dulunya merupakan Istana Kerjaan Dinasti Ming dan Qing.

(3) Kutipan puisi "Di Restoran" karya Sapardi Djoko Damono

(4) Kata "Campur" di sini artinya: semangkuk nyuknyang dengan bola daging yang halus dan kasar. Sementara kata "Halus" di sini artinya: semangkuk nyuknyang dengan bola daging yang halus semua.

CERPEN~Dalam Kabut, Aku.


Dalam Kabut, Aku.

ULU, ketika aku masih anak-anak, kupikir kabut itu berupa ruang-ruang berlapis putih dan amat lembut, begitu mudah ditembus, disobek, atau digunting dari sudut ke sudut hingga seseorang bisa masuk dan keluar sesuka hati. Kapan saja. Semaunya. Dan aku membayangkan dapat main petak umpet bersama teman-teman di dalamnya. Bersuka-tawa, habiskan hari.

***

Tentu pula, aku sudah melihat kabut dengan sudut pandang berbeda pada usia empat puluh tahun, ketika bintik-bintik hitam di kulit wajah dan kerut-kerut mulai muncul di sekitar kulit mata, tanda-tanda penuaan yang menyerang cepat pada kulit semua petani yang sejak pagi tenggelam dalam kabut, tengah hari diterpa matahari, sore hari disiram hujan tiba-tiba. Ya. Di mataku yang seorang petani dan ibu tiga anak, kabut memiliki dinding-dinding teramat keras dan pagar yang sangat tinggi. Sekali kita memutuskan ke sana maka itu bukan untuk bermain-main, tapi harus merupakan tempat dan pilihan akhir tanpa bisa ditawar setelahnya atau diundur ke belakang seolah-olah semua itu sebuah kesalahan yang seharusnya tidak pernah terjadi, sehingga semua dapat kembali seperti semula, mirip dunia sulap. Untuk itu, seseorang yang sudah masuk dalam kabut harus belajar menerima. Di sanalah ia akan membangun hidup baru, mimpi-mimpi baru, kekuatan baru, rumah baru. Lama-kelamaan, siapa saja yang di masa kecilnya mengira kabut sesuatu yang indah dan lembut, akan mempunyai pendapat baru dan dapat memahami keadaan itu sebagai suatu kenyataan yang mesti dijalani dengan tulus, tanpa keluh-kesah, apalagi putus asa.

Maka setiap pagi kami sudah berada dalam kabut. Tubuh kami tenggelam dalam lautan putih pekat dan tampak lembut, menyedot kami seutuhnya, jiwa dan raga. Dalam kabut, kami bertemu tanah-tanah hitam yang gembur, subur dan lembap. Rumput-rumput hijau berbau segar tumbuh di antara batang-batang bawang, kol, cabai, kacang buncis, labu siam, wortel--yang semua daun-daunnya basah oleh embun. Berhadapan dengan semua itu, wajah kami bersinar-sinar bagai matahari pagi yang jatuh di daun keladi yang lebar. Senyum kami mengembang bagai kol yang paling gemuk. Dada kami berdenyut gembira. Terlebih pada hari menjelang pekan, saat keesokannya kami akan turun dari rumah pukul dua dini hari, menumpang mobil angkutan yang datang seminggu sekali, menuju pekan dengan berkarung-karung hasil panen dari ladang. Kami menembus kabut lebih tebal, yang dinginnya sampai merobek baju hangat dari benang wol. Di pekan kami akan bertemu dengan para tauke, dan melepas karung-karung sayuran, cabai, ubi-ubian (pagi-pagi sekali karung-karung itu akan diberangkatkan lagi ke kota-kota).

Begitulah kami sepanjang hidup. Begitulah aku....

***

Pagi ini, aku berangkat menuju kabut. Aku akan larut berjam-jam, sepanjang hari, seperti biasanya. Ada rumput-rumput yang harus disiangi, ada cabai yang mesti dipetik, sebab besok hari pekan, dan semoga harga cukup bagus. Labu siam dan wortel juga sudah masa panen, tapi itu akan dikerjakan suamiku yang nanti menyusul setelah menghabiskan segelas kopi dan ngobrol bermacam-macam gosip di kedai ujung kampung bersama lelaki-lelaki pemalas yang tiap hari lebih suka duduk-duduk seolah-olah itu saja yang bisa mereka lakukan. Ada sekelompok lelaki di kampungku yang tidak suka bergelut dalam kabut, entah apa alasannya. Kukira hanya karena tidak ingin saja, dan tidak malu menumpangkan hidup pada istri-istri yang tubuhnya kurus, wajah cekung, dan bau tanah menguap dari baju dan rambutnya yang tersanggul acak-acakan, sementara lelaki-lelaki itu bersantai-santai di kedai tanpa kenal waktu, mengenakan baju paling bagus dan wangi, rambut terpotong rapi diberi minyak rambut.

Aku tidak perlu terlalu memikirkan lelaki-lelaki semacam itu. Perempuan-perempuan di kampung juga tidak begitu peduli. Tanpa mereka, hidup akan terus bergulir, tanpa berhenti sedetik saja. Sebagaimana aku juga tidak pernah memprotes kebiasaan suamiku minum kopi di kedai, berlama-lama, sebelum menyusul ke ladang. Sekali saja aku belum pernah berdebat dengannya--selain sekadar mengingatkan agar dia jangan lewat dari tengah hari menyusul ke ladang--sebab aku tahu ia punya jawaban yang berbelit-belit dan panjang, dan aku pasti kehilangan banyak waktu dibuatnya.

Aku lebih suka berada dalam kabut secepatnya, sebelum butir-butir air di dedaunan jatuh ke tanah seluruhnya.

Butir-butir air di atas daun. Butir-butir air...

Aku sering melewatkan waktu beberapa menit untuk melihat butir-butir air itu, menyerapnya hingga menyentuh dinding-dinding hati, kadang mengajaknya bicara. Bisa-bisa aku terpana beberapa lama, seakan menemukan diriku dalam butiran air itu, dan itu amat menghibur. Menumbuhkan semangat sekaligus mengharukan. Dua hal yang sama sekali tidak kumengerti dari mana datangnya dan apa maksudnya. Sama juga saat seseorang berada dalam kabut yang mendadak bagai ada di dunia lain. Sesuatu yang juga tidak terpahami oleh hampir semua petani di kaki gunung, namun mereka dapat merasakan getaran yang tidak biasa. Tidak terjelaskan.

Dan kami telah bertahun-tahun berumah di sana. Setiap pagi kami telah berada dalam kabut, kadang bagai hilang, terasing dari dunia lain, terpisah sangat jauh. Jika pun kami masih mendengar suara-suara di sebalik kabut, suara itu kami terima sebagai sesuatu yang tidak kami kenal dan aneh. Kami memilih tidak acuh dan terus bekerja, membayangkan anak-anak yang minta dibelikan baju sekolah baru pengganti seragam yang mulai kusam warnanya, dapur yang harus terus mengepul setiap pagi dan sore, juga lauk yang barangkali harus dinikmati sesekali sebagai pendamping sayur-sayuran yang kami petik di ladang sendiri. Lalu, tidak terasa hari sudah sore, kabut memang telah hilang dari pandangan sejak tengah hari, tapi setiap orang yang terbiasa dalam kabut tetap saja merasa kalau mereka masih dalam lingkaran putih halus dan tampak lembut itu, ada atau tanpa kabut sekalipun.

Begitulah kami dari waktu ke waktu. Begitulah aku....

***

Pertama kali aku mengenal dunia dalam kabut dari ibuku, dan tentu ibu dari nenekku, nenek dari nenek buyutku, begitu seterusnya, seperti juga dongeng-dongeng terus hidup dalam keluarga kami dari generasi ke generasi.

Biasanya seorang ibu mulai mengenalkan dunia kabut pada anak-anaknya, ketika si anak berusia sepuluh tahun (ini tentu saja yang hanya sekolah sampai SD). Si anak akan dibawa ke dalam dunia kabut untuk melihat-lihat saja atau bantu-bantu sedikit mencabuti rumput dan memetik kacang buncis. Anak yang sudah pernah dibawa dalam dunia kabut akan minta diajak lagi pada hari-hari selanjutnya. Mereka menganggap kabut sebagai taman bermain yang indah, hingga tanpa terasa ia sudah di sana sekian lama dan tidak keluar lagi. Sedangkan anak-anak yang sekolah lebih tinggi, meski ada yang menetap di kota, jadi pegawai pemerintah atau kerja di perusahaan swasta, ada juga yang memilih kembali dalam kabut. Pada mulanya mereka memang enggan berurusan dengan kabut. Mereka ingin putus dengan segala sesuatu dari masa lalu seorang ibu atau neneknya, dengan tanah dan kehijauan yang terhampar dalam dunia kabut, dengan orang-orang berambut kering dari kaki gunung berhawa dingin. Namun setelah menikah, banyak juga di antara mereka meneruskan tradisi keluarga, menjadi petani, layaknya orang-orang di kampung kami. Jika awalnya mereka masih kelihatan setengah hati, karena seharusnya mereka punya kesempatan untuk tidak masuk dalam kabut, lama-lama perasaan mereka yang sedikit terluka itu, sembuh sendiri, malah tanpa bekas. Tiba-tiba mereka sudah bisa tertawa bersama orang lain, mulai terlibat dan mengikuti perkembangan harga-harga sayur-sayuran yang naik-turun ketika hari pekan.

Tapi itu dulu, puluhan tahun lalu. Ketika tanah di kaki gunung terhampar luas, hijau, dan masih dapat menjawab mimpi semua orang.

Belakangan ini, hampir semua petani mulai menyadari tanah itu tidak mungkin sanggup lagi menampung anak-cucu mereka yang berkembang berlipat-lipat. Setiap tahun ada saja kelahiran di rumah-rumah papan. Anak-anak cepat sekali tumbuh dan butuh tempat. Tidak ada pilihan lain kecuali anak-anak itu harus keluar dari kampung berkabut, merantau, dan membunuh ingatan tentang tanah. Tanah hanya masa lalu milik orang-orang tua. Anak-anak dilarang mencintai tanah. Para orang tua tidak lagi membayangkan anak-anak mereka jadi petani, menjadi orang-orang dalam kabut.

Para ibu akan membujuk anaknya untuk melupakan tentang kabut, dan berkata: ''Seorang petani hanya punya kehidupan dalam kabut, Anakku. Sama sekali tidak ada kehidupan lain. Bayangkan betapa sepinya seorang petani. Kau tidak ingin begitu kan? Kau harus berada di tempat lain, tempat penuh cahaya lembut dan udara yang tidak terlalu dingin, kaku. Kau akan bertemu dengan banyak orang, keramaian, dan keceriaan.

Anak-anak itu cepat-cepat mengangguk, meski mata mereka penuh pertanyaan, tentang sesuatu yang tampak serbamendesak, tentang wajah kurus bapak dan ibu mereka yang mendung. Beramai-ramailah mereka bersiap meninggalkan tanah, menjauhi kabut. Mereka hanya boleh memikirkan sekolah, dan menjaga cita-cita sebaik mungkin. Mereka mulai membayangkan jadi guru atau dokter. Bapak dan ibu mereka cuma berpesan agar anak-anak belajar baik-baik. Jangan main-main di sekolah. Dan kalau bisa harus jadi juara, seorang pemenang. Anak-anak dengan mata berbinar meneriakkan cita-citanya di jalan-jalan, menuliskannya di dinding-dinding, dan batang-batang pohon. Tidak satu pun anak-anak itu ingin menoleh ke belakang, menjenguk ladang-ladang dalam kabut, dan mengikuti perkembangan harga sayur-sayuran yang kadang bikin petani gigit jari.

Begitulah kisah anak-anak dari kampung berkabut. Begitulah anak-anakku....

***

Anak-anakku yang berkulit cokelat, berambut kering, dan memiliki kaki-kaki panjang (ini tentu diturunkan dari suamiku yang jangkung) beberapa tahun lalu satu per satu telah meninggalkan kampung untuk melanjutkan sekolah tinggi di kota. Mereka hanya pulang pada liburan semester, kadang cuma satu minggu. Aku sangat bangga setiap kali membayangkan mereka pulang dengan senyum terukir di sudut bibir, mendengarkan pikiran-pikiran mereka yang tajam, dan menyaksikan semangat yang senantiasa hidup di wajah mereka yang mulai keras dan kokoh. Ah, betapa anak-anak hampir saja memiliki sayap yang lengkap, siap mengepak, menuju ketinggian paling jauh, di atas awan-awan. Alangkah indah mimpi-mimpi itu. Anak-anak meninggalkan dinding-dinding kabut yang keras. Menutup sejarah sebagai petani yang akhir-akhir ini hampir-hampir menjadi keinginan semua orang tua yang tentu saja, sesungguhnya, bukan semata-mata karena tanah yang semakin tidak cukup, tapi hidup petani yang memang makin berat, makin tidak memberi harapan. Anak-anak lebih baik kerja apa saja di kota, daripada kembali pada tanah dalam kabut yang telah menjadi petak-petak kecil saja.

Begitulah cerita tentang tanah-tanah ditinggalkan. Begitulah aku kemudian....

***

Dulu--ketika aku berusia empat puluh tahun--kupikir, kabut itu memiliki dinding-dinding keras dan pagar tinggi hingga orang begitu sulit keluar jika sudah memilih masuk.

Sekarang tentu saja, aku memandang kabut dengan cara yang berbeda lagi. Usiaku sudah tujuh puluh tahun. Bagiku yang tua, renta, dan kesepian dalam kota ramai, kabut merupakan kenangan yang seharusnya selalu kujaga, dan kelak aku berharap kembali ke sana, selamanya. Hanya itu. Sederhana dan tanpa definisi yang lain

Ya. Betapa ingin aku kembali ke masa lalu itu. Hilang dalam kabut berjam-jam, bersembunyi. Maka setiap pagi aku membuka jendela kamar lebar-lebar, berharap kabut muncul di hadapanku, dan menjawab kerinduan yang menggantung di kedua mataku. Meski kabut tidak pernah datang, sekalipun di waktu yang masih terlalu pagi, aku tetap membuka jendela.

Anak lelakiku sedikit ribut jika aku membuka jendela pagi-pagi, katanya sakit rematikku bisa kambuh dan ia tidak ingin itu terjadi lagi.

Menurutku, semua anak-anakku sama saja. Mereka tidak ingin aku membangun masa lalu di kehidupan mereka. Apalagi tentang kabut. Bukankah dulu seluruh anak-anak kampung telah dipaksa untuk keluar dari kabut, melupakan dinding-dinding yang dulu kupikir keras. Anak-anakku juga bagian dari kisah itu. Kini, mereka telah hidup jauh dari kampung berkabut, dan menjadi orang-orang yang mengukir sejarahnya sendiri di tempat baru. Tidak satu pun dari anak-anakku yang bisa kuajak bercerita tentang kabut. Atau mereka sekadar berpura-pura tahu dan tertarik mendengar cerita itu untuk menjaga perasaan seorang ibu. Mereka selalu bilang, "Maaf, Bu, aku sungguh lupa. Bahkan aku tidak ingat warnanya." Atau mereka akan terus terang, "Bu, jangan hidupkan lagi cerita tentang kabut di rumah ini. Aku tidak senang Ibu melakukan itu."

Aku tertegun. Aku ingat anak-anak yang dulu berlari-lari di perkampungan berkabut. Anak-anak yang dulu berambut kering dan kaku, rambut orang-orang di kaki gunung. Mereka bilang, semua dari masa lalu itu tidak pantas lagi mereka dengar.

Aku tidak mengerti kenapa. Aku tidak akan pernah mengerti. Mungkinkah satu kesalahan besar telah aku lakukan berpuluh-puluh tahun lalu dengan mengirim anak-anak ke kota dan berkata, "Jangan bercita-cita jadi petani, Nak. Lupakan tanah berkabut." Hanya saja, setelah aku tua, ternyata aku sudah punya pendapat berbeda yang telanjur tidak bisa lagi diterima anak-anak.

Aku sendirian dalam kenangan itu. Hanya sendiri. Suamiku lima tahun lalu telah kembali pada tanah berkabut. Ia mungkin bahagia di sana, dan tengah menantiku. Kami memang tidak pernah saling mencintai selama ia hidup, tapi kini aku merasa hanya padanya aku ingin pulang.

"Pulang?" Anak lelakiku bertanya tidak percaya.

Aku berkata, "Ibu rindu kabut."

Anakku bernapas berat, "Tidak ada siapa-siapa di kampung yang bisa mengurus Ibu. Jadi...."

Aku sudah menebak jawabannya. Aku menutup pembicaraan, dan minta ditinggalkan sendirian.

Begitulah kenangan kabut hadir dalam kesendirian yang terasa lebih panjang. Begitulah dalam kabut, aku....

***

Keesokannya, pada pagi yang terasa lebih dingin, aku membuka jendela sangat lebar, dan di hadapanku kabut telah begitu tebal.*

CERPEN~Kisah dari Numfor.


Kisah dari Numfor.

Manusia tanpa sejarah tak terlepas dari waktu, karena sejarah adalah suatu pola dari momen-momen nirwaktu.... TS Eliot.

AKU berasal dari Numfor, sebuah pulau kecil di sebelah atas daratan Pulau Papua, negeri hitam kami yang diliputi hutan belantara dan sungai panjang. Dari tepiannya aku dilahirkan. Selama ratusan tahun nenek moyangku mendiami pulau itu, dihidupi dan menghidupkan semua dan segala. Kehidupan kami bagai tak terbatas, memiliki hutan-hutan dengan segala isinya, lautan dengan segala yang ada di dalamnya. Anak-anak bersahabat dengan angin, dengan akar-akar pepohonan, bergelantungan seperti kera-kera memetik buah-buahan. Kaum perempuan kami berdendang riang, menunggu para lelaki pulang berburu atau menangkap ikan. Sungguh masa lalu yang riang.

Pada malam hari, kami berkumpul membentuk lingkaran mengelilingi api, menghitung bintang-bintang, mendengarkan tetua kami mendongeng, melacak dan mewariskan yang silam. Laki-laki dan perempuan, tua-muda, kakek-nenek maupun cucu-cucu bergelak-gelak atau menangis mendengarkan tetua kami menyihir setiap kata menjadi dunia ajaib. Kami ditenggelamkan oleh gegap gempita kejayaan, sampai suaranya yang serak dan kelip sinar matanya yang letih itu menandai berakhirnya cerita.

"Pergilah tidur dalam damai, dan esok kalian harus lebih menang daripada kami, sebab kalian adalah mutiara-mutiara hitam, pemilik masa depan yang gemilang."

Kami menyingkir, menjauhi pendiangan, kembali ke gubuk-gubuk yang telah menunggu dalam kegelapan. Oh, masa lalu yang damai, keriangan yang telah silam, kejayaan yang kini menghilang!

Kepada siapa harus kupertanggungjawabkan nista ini, terusir dari tanah sendiri, dikhianati nasib sengit? Kami tiada salah, tiada memanggil bala dan bencana. Namun seperti kisah orang-orang asing yang pertama-tama datang ke negeri kami, kami bagai diturunkan dari surga milik Tuhan serupa Bapa Adam dan Ibu Hawa jatuh terperosot dari langit dan terjerembap di wajah lengas bumi, hanya kuasa mencucurkan air mata, kian kemari menanggung sengsara. Inikah kutuk masa depan seperti yang dituturkan tetua kami jikalau di antara kami ada yang berkhianat terhadap leluhur?

"Jika ada satu di antara kalian tak mau mendengar keluh angin, debur ombak lautan, keheningan hutan; jika ada di antara kalian enggan membaca tanda-tanda dari langit, kemalangan akan dijatuhkan atas kalian. Terkutuklah kalian sampai jauh di masa depan," ujar tetua kami setiap kali akan mengakhiri kisahnya yang penghabisan.

Benar, tetua, kami telah mengkhianati semuanya, nenek moyang, tanda-tanda alam, kisah-kisah lama dalam dongeng kita, segala hal di sekitar kami. Lebih kami dengarkan suara padri-padri berkulit putih yang berwajah seperti malaikat itu, ancaman-ancamannya yang mengerikan ketika ia berbicara tentang neraka, keindahan dan kenikmatan yang ditawarkan oleh surga. Kami tinggalkan masa lalu, terlepas dari sejarah, dan kemudian melayang-layang tanpa arah. Jikalau kami kemudian ternista, hidup dalam semesta tak berwaktu, menyusuri lorong-lorong kegelapan, pada siapa akan kami keluh-kesahkan?

***

Sebenarnya, aku tak tahu apakah persisnya memang demikian. Aku tak tahu pasti siapakah yang salah, padri kulit putih bermuka malaikat yang datang menawarkan Tuhan baru bagi kami beserta surga dan nerakanya, orang-orang katai yang membuat kami musnah dan meninggalkan tanah leluhur, ataukah nenek moyang kami yang mewariskan sejarah kepada kami beserta kemuliaan gunung dan lautannya, kemahadayaan hutan-hutan dan roh-roh yang bersemayam pada setiap benda dan harus kami puja untuk menjaga rantai kedamaian masa depan.

Bencana itu barangkali memang telah diperuntukkan bagi kami, dengan atau tanpa kutukan sebelumnya. Setelah padri-padri itu datang dan berdiam di sekitar kami, kemudian berturut-turut mengekorlah orang-orang kulit putih rakus itu, mengambili milik kami. Mereka, pendatang kulit putih yang tiba sesudah padri-padri itu, berkata kasar bahwa merekalah pemilik negeri kami.

"Bangsa kami lebih mulia daripada kalian, orang-orang hitam dan barbar! Kamilah pemilik dunia seperti yang dikabarkan Injil. Dan kalian tiada lain adalah pelayan kami. Kami telah berkuasa atas lautan selama ratusan tahun, dan kini saatnya kami juga menguasai daratannya."

Jadi mungkin inilah nujum seperti yang dikatakan para tetua puluhan tahun lalu tentang jaring kegelapan yang sewaktu-waktu bisa datang dan menyergap kami.

"Jika suatu saat kalian tak lagi bertuan atas tanah dan air kalian sendiri, hidup kalian akan sengsara. Tiada yang lebih mengetahui tanah dan air, gunung dan lautan di sini kecuali kalian sendiri."

Generasi demi generasi, sejak kedatangan orang-orang berkulit putih itu, kami mulai tersingkir. Orang-orang kami tak lagi memiliki kemerdekaan. Hidup kami terbelenggu. Sejarah kami sendiri perlahan-lahan menyusut dan terbang bersama angin yang tak lagi membelai kulit kami dengan mesra. Kami mulai kehilangan segalanya....

***

Sampai beberapa tahun lalu, seperti serombongan setan dari neraka atau roh-roh jahat yang muncul dari dalam lautan, berhamburanlah di tanah kami orang-orang katai itu, membawa-bawa senapan dan pedang panjang berkilat. Pecah perang di lautan kami antara orang-orang kulit putih dan bangsa katai berkulit kuning dan bermata sipit itu. Dalam pertarungan dua binatang buas itu, kami bagai dijadikan pelanduk, mati di tengah-tengahnya. Dari orang-orang berkulit putih, nasib kami dilemparkan ke tangan orang-orang katai yang gemar membuat gua dan lubang persembunyian.

Kami dikumpulkan bersama dalam satu tempat. Orang-orang kulit putih yang semula ikut tinggal bersama kami telah pergi beberapa hari sebelum kedatangan serombongan setan katai dari dalam lautan itu. Mereka rupanya lebih cepat mencium bahaya daripada kami. Hanya ada beberapa orang pencari emas yang tertinggal dan satu padri yang memang berjanji akan menemani kami sampai mati. Mereka dipisahkan dari rombongan kami, disekap dalam rumah mereka sendiri, dijaga ketat oleh tentara berbayonet.

Kami hidup seperti dalam mimpi buruk. Segala mantra dari tetua kami tak memiliki kekuatan untuk mengusir orang katai itu, atau memperlunak sikap mereka kepada kami. Tanpa rasa belas kasihan, mereka memaksa kami membangun gua-gua persembunyian dan membuat parit-parit pertahanan. Pemimpin katai menyebut kami romusa. Tetua kami dijadikan pemimpin, namun tanpa taji dan kekuatan dari nenek moyang kami. Karena kedukaan dan kehinaan yang kami alami, ia membunuh diri dengan panah pusakanya, melolong-lolong minta ampun kepada nenek moyang.

Sejak itulah kami yakin sejarah kami berakhir. Kami diantarkan kereta sejarah ke dalam kehampaan, kehidupan tanpa kebahagiaan, tersisih ke dalam ruang gelap dan anyir. Sebagian kecil dari kami, yang bertubuh paling kuat, dibawa ke suatu tempat dengan kapal. Mereka menyebut-nyebut nama Morotai. Kabarnya setelah dibawa ke tempat jahanam itu, mereka semua menemui kematian di ujung pedang. Ya, mereka dikirimkan ke dalam ketiadaan. Dan begitu juga dengan kami. Bekerja siang dan malam hampir tanpa makanan. Perempuan kami diperkosa, dilemparkan dari satu lelaki katai kepada lelaki katai berikutnya. Anak-anak kami kelaparan. Pada malam hari, kami menangisi diri sendiri dan mengutuk kejahatan kami kepada nenek moyang, segala roh yang ada di bumi dan langit, pada bintang-bintang yang tak lagi berkedip riang kepada kami. Mereka semua murung, bisu, semakin jauh, jauh, sampai samar....

***

Pada suatu malam, kubangunkan kedua saudara laki-lakiku. Kami berbisik-bisik kecil.

"Kita harus meninggalkan tempat ini. Jika tidak, semua dari kita akan musnah oleh orang-orang katai itu," kataku.

"Tapi penjagaan sangat ketat. Dan telinga katai itu alangkah tajamnya. Mata mereka yang sipit seperti menyembunyikan matahari. Jika dibuka lebih lebar oleh sebab tindakan bodoh yang kita lakukan, musnahlah kita semua," kata kakakku.

"Benar, tapi tanpa melawan kita juga akan musnah. Kita sungguh-sungguh telah dikutuk!" ujar adikku. Dalam kegelapan aku tahu ia menangis, berusaha menahan diri supaya suaranya tak menciptakan kegaduhan sekalipun kecil.

"Itulah sebabnya aku berpikir meninggalkan tempat ini. Kita telah dikutuk, jatuh dalam jurang tanpa dasar. Kita lebih mengenal tempat ini daripada mereka, sekalipun mereka lebih berkuasa atas kita. Bukankah mereka tak tahu persis di mana harus merunduk dan menegakkan badan supaya tidak terlihat? Kalau kita pergi, mungkin kita selamat, dan bisa hidup baru di tempat asing."

"Mungkin juga tidak, dan menemui kematian seperti yang lainnya," ujar kakakku jeri.

"Tapi kita sudah mencobanya. Kita tidak akan malu kepada nenek moyang dan bisa menebus dosa kita."

Dari hampir seratus orang laki-laki, hanya sepuluh orang yang bersedia mengikuti kami, itu pun mereka yang tak lagi memiliki istri atau anak-anak. Persis ketika rembulan telah habis, dan hujan turun deras di bumi yang telah dipekati kegelapan dan aroma kemusnahan, bersepuluh kami berjalan kaki, menghindari penjagaan dan sergapan. Dua orang berhasil ditemukan penjaga dan digelandang ke markas, tak lagi kami ketahui nasibnya. Satu orang tertangkap ketika sedang menyeberangi sungai, dan dua orang lagi memutuskan berpisah dengan rombongan. Kami berjalan naik turun bukit, sampai di tepi laut dan harus bersembunyi di sebalik perbukitan untuk menghindari patroli tentara katai.

Berlima kami membuat perahu dari batang pepohonan yang ditebang pada malam hari. Setelah perahu selesai, kami berselisih tujuan, apakah ke Serui yang tak diduduki orang katai--seperti yang dikatakan padri kami sebelum orang katai itu datang--ataukah ke pulau lain yang tak berpenghuni. Kami bertiga memutuskan melanjutkan perjalanan ke Serui. Sedangkan dua kawan kami memutuskan tinggal di pulau tak berpenghuni. Sesampai di Serui, kami bertiga berpisah jalan. Aku tinggal di Kampung Turu, kakakku tinggal di Kampung Anoterai, dan adikku tinggal di Kampung Menawi.

Kami tinggalkan masa lalu kami, bercerai dalam ketiadaan. Dan sejarah sungguh-sungguh menciptakan keasingan bagi kami, seperti anak yatim piatu yang ditinggalkan ayah-bundanya.

***

Untuk kalianlah kututurkan kisah ini. Tiada lain karena aku telah kehilangan siapa diriku yang sebenarnya. Aku tiada lagi bertanah, juga berair. Terusir dari surga yang telah kudiami sekian lama. Aku khianati hakikat kemanusiaanku yang memiliki sejarah, melayang-layang dalam kehampaan hidup yang kini kujalani. Kini, di tempat tinggalku yang baru di Serui, tak kupakai lagi nama fam yang dulu, fam yang sejak zaman nenek moyangku pertama-tama mendiami Numfor. Orang-orang bertanya nama famku, kujawab dengan keasingan yang menyembunyikan kedukaanku.

"Namaku Tera Kansay."

"Fam Kansay? Apakah ada Fam Kansay di bumi Papua?" tanya orang-orang kebingungan.

"Ya, akulah orangnya, yang pertama-tama memakai nama fam itu."

"Dari mana asal nama fam itu?"

"Karena aku lahir di tepi salah satu sungai tak bernama di Numfor, di bawah sebuah pohon beringin. Sejak kedatangan bangsa katai, sungai itu diberi nama Kansay untuk mengenang tempat muasal para tentara katai yang sedang membangun gua-gua persembunyian di tepi sungai itu. Aku tak tahu siapa ayahku, sehingga tak memiliki fam seperti kebanyakan orang. Jadi nama famku sesuai dengan nama baru untuk sungai itu."

"Kansay...? Nama fam yang berasal dari nama tempat asal orang katai. Sungguh aneh," gumam mereka tak mengerti.

Kedua saudaraku tetap menggunakan nama fam asal kami. Mereka tak mau lagi datang ke tempatku setelah mengetahui aku mengubah nama famku dan menyebutku seorang pengkhianat nenek moyangku. Benar, aku sendirilah yang memutuskan diri dari belenggu kutukan itu. Aku hormati masa laluku, tapi biarlah ia tenggelam dalam kelupaan. Setelah sepuluh orang meninggalkan kamp kerja paksa, orang-orang katai itu menyiksa seluruh laki-laki sesama saudara kami. Hanya tersisa lima orang, itu pun karena mereka meloloskan diri dari sergapan sebat samurai orang-orang katai itu. Kini, hanya tersisa para perempuan di tempat asalku, dan beberapa lelaki jompo. Kehidupan yang musnah dengan segala warisannya.

Jika suatu saat anak cucuku bertanya dari mana asalku, akan kukatakan asal-muasal mereka yang sebenarnya. Aku tak tahu apakah akan diterima kembali di tanah asal mereka seandainya suatu saat mereka ingin kembali ke sana, ataukah terusir, seperti aku yang terusir dari asal-muasalku.

CERPEN~Takut.


Takut.


KAU menemukannya hari Jumat pagi pukul delapan. Diam. Matanya sedih memandang. Bibirnya yang pucat, terkuak sedikit seperti ingin mengatakan sesuatu. Kau menangis. Tubuhnya yang dingin berselimut kain batik kauguncang-guncang. Air matamu jatuh ke mukanya. Tapi dia tetap tak bersuara.

Hanya matanya yang terbuka, seperti sedang bicara.

***

Kau membanting pintu taksi dan berlari ke gerbang yang sudah tertutup pagarnya. Dia mengejarmu setelah melemparkan uang ke tangan si sopir yang belum sempat menuntaskan umpatan karena kalian begitu ribut selama perjalanan. Dia mencekal tanganmu. Kau menepisnya dengan kasar lalu membuka pintu pagar.

"Dengarkan aku dulu, Fem!" Serunya berkali-kali.

Hatimu sakit, lebih-lebih karena malam itu dia belum juga memberikan sebuah jawaban yang kauharapkan. Kau merasa dipermainkan oleh dia yang sungguh-sungguh ingin kaucintai. Tetapi apa yang kaudapat? Hanya seringai tipis di bibir bengkok yang membuat kerongkonganmu seperti ditumbuhi duri-duri yang gatal menyakitkan.

Kau benar-benar ingin menangis. Sore sebelum kalian berangkat ke kafe, di depan cermin dandan di kamar, kau telah meyakinkan diri akan melakukan tindakan paling nekat sekali pun untuk menggerakkan lidahnya mengucapkan apa yang ingin kaudengar.

"Kalau kau inginkan keikhlasan tubuhku, akan kurelakan tanpa sedu-sedan." Begitu tekadmu sambil menyamarkan kerutan-kerutan di bawah mata. Sengaja kau tampil secantik mungkin mengingat November sudah akan berakhir; itu artinya tahun baru tinggal sebulan lagi dan kau dengan memalukan akan menjadi nona tua tiga puluh lima tahun.

Di mana letak kejelekanmu sehingga tak kunjung ada seorang laki-laki yang benar-benar bertambat? Mereka hanya sekadar mampir sebagai teman dekat. Kencan yang hanya menyia-nyiakan waktu dan hasrat. Apa kekuranganmu? Ibumu bilang kau cantik sekali. Begitu pula kata bapak dan adik-adikmu yang semuanya sudah menikah.

Mereka mafhum benar perjuanganmu, diet keras yang membuatmu nyaris berkamar di dalam tanah; ikut senam aerobik, lulur di spa dan mandi sauna, kau juga masih menggunakan krim yang disarankan temanmu untuk memperbesar dan memperkencang payudara agar mata para lelaki terjerat lekat ke tubuhmu. Kau juga rajin merawat organ kewanitaanmu dengan terapi air daun sirih. Tetapi tak juga ada laki-laki yang datang menemui orang tuamu untuk meminang.

Sanak saudara curiga ada orang jahat yang mengguna-gunaimu sehingga kau terhalang jodoh. Kau pun dimandikan dengan air bunga rampai di depan rumah. Tujuh tahun yang lalu. Tetapi tetap saja nihil. Kau masih sendirian. Kadang kewalahan menahan rasa frustrasi yang menyeretmu ke ruang makan untuk melampiaskan segala nelangsa dengan memakan semua yang kausuka. Akibatnya kau pun jadi pontang-panting diet lagi. Dan hampir setiap pagi keluargamu akan menemukanmu bangun dengan mata sembab bekas menangis.

Dan kau menemukannya satu setengah tahun lalu. Laki-laki pemurung yang sering kehilangan kata-kata. Tetapi dia sopan, dengan tatapan mata yang baik seperti balita tanpa tabungan dosa.

***

"Jadi, apa lagi yang harus ditunggu?" Desakmu di kafe kemarin malam. Sudah satu jam kalian duduk dengan perbincangan yang berputar-putar. "Kau punya pekerjaan yang mapan. Aku juga. Usia kita juga sudah matang. Keluargaku mendukung. Aku sudah siap lahir batin. Apalagi yang ditunggu?"

"Beri aku waktu." Laki-laki itu tampak resah. Butiran-butiran keringat memercik di keningnya. Ingin sekali kau mengulurkan tangan untuk menyekanya dengan saputangan, tapi dadamu sudah terlanjur gerah. Hidangan di depan kalian tinggal dingin habis diaduk-aduk.

"Ini kali keempat kau mengundurnya."

"Aku belum siap."

"Belum siap? Belum siap apa, Sayang? Kau hanya perlu datang ke rumahku, meminta pada kedua orang tuaku. Lalu kita memanggil penghulu, akad nikah, syukuran kalau memang kau tak suka keramaian. Tidak susah bukan? Kau tak perlu menyiapkan uang satu miliar untuk menemui orang tuaku."

"Bukan begitu. Aku hanya cemas." Laki-laki itu kembali mengalihkan pandang. Matanya tampak gelisah. "Ah, kau belum akan mengerti."

Kautatap mukanya yang lembut itu dengan kesal. Sebab apalagi yang memberatkannya membuat keputusan kalau bukan keraguan? Kau merasa dipermainkan, dipojokkan karena posisimu yang lemah sebagai pihak yang berharap.

"Kau malu karena aku lebih tua darimu?" Kaucetuskan pertanyaan itu untuk kesekian puluh kalinya. "Kau malu nanti ditertawakan orang karena menyunting perawan tua?"

"Bukan. Bukan itu. Kumohon sabarlah. Beri aku waktu untuk menenangkan diriku." Tangannya dengan gugup meraih tanganmu. Tangan itu keras dan dingin. "Apakah aku sudah menceritakan masa kecilku padamu?"

Kau merengut. Padanya kau pernah mengaku bahwa kau tak peduli pada masa lalu, yang kaubutuhkan adalah masa depan.

"Kita belum benar-benar saling memahami. Terlebih, kau belum benar-benar tahu siapa aku."

"Apakah kau bekas tahanan atau mantan pembunuh bayaran bagiku persetan. Kita dapat lebih mendekatkan diri setelah pernikahan, bukan? Itu kalau kau benar-benar serius."

"Tentu saja aku serius, tapi tak semudah itu. Kau belum benar-benar mengenalku. Aku tak ingin kau menyesal nanti."

"Mengenal bagaimana lagi? Sudah hampir dua tahun kita berhubungan. Masih belum cukup?"

"Coba lihat mataku."

Tapi kau sudah kehabisan kesabaran. Kau bosan mengalami adegan yang berulang-ulang. Kausambar tas kecilmu. Berdiri meninggalkan meja dengan marah. “Apakah aku harus melihatmu telanjang dulu dan kau pun melihatku telanjang, baru perkenalan itu cukup?”

Kau berlari keluar.

Di meja, tangannya yang kejang telah meremas gelas hingga pecah. Dia pun kemudian berlari menyusulmu.

***

"Baiklah, mungkin sebaiknya kita berpisah." Kau menghentikan langkah di depan rumah. Hujan bulan November malam itu tak turun. Keluargamu sudah tidur. Hanya lampu teras yang masih menyala. Taksi kuning dengan AC rusak itu telah melaju mencari penumpang baru. “Aku tak akan mati bila tak kaunikahi!” Kau meradang kehilangan romantisme. Egomu sebagai perempuan membuatmu melontarkan makian yang sesungguhnya sangat bertentangan dengan hati nuranimu.

Dia tertegun beberapa saat lalu merentangkan tangan hendak merangkulmu. Kau buru-buru mengambil jarak.

"Menjadi perawan tua memang sakit, tetapi menjadi pengemis jauh lebih sakit!"

"Aku berjanji akan menikahimu!"

"Sejak setahun lalu kauucapkan itu tanpa bukti!"

"Aku belum..."

"Belum mau sebelum mengenalku luar dalam? Kawinlah dengan pelacur!" Kau memang telah berniat menyerahkan dirimu bulat-bulat padanya kalau itu yang dia jadikan syarat. Tetapi kegeramanmu akibat sikap tak konsistennya membuatmu memilih seteru. Rasanya tak berguna kau punya pasangan yang plin-plan.

Dia berdiri kaku di depanmu. Giginya bergemeletuk tetapi kau tak mendengar. Di balik dadanya yang ingin kaujadikan tempat menyandarkan kepala itu, hatinya menggelegak marah karena merasa terhina.

"Aku memang lebih muda tiga tahun darimu, tapi jangan kaukira aku tak punya komitmen! Sekali aku berkata iya, tak akan pernah kuganti tidak."

"Lalu apa yang telah kaujanjikan empat kali itu?"

"Aku tak pernah membatalkannya, bukan? Aku hanya minta ditunda. Tak bisakah kau mengerti agak sedikit?"

"Pengertian apalagi yang harus kuberikan? Kalau kau memang tak sudi, ya, kita akhiri saja. Aku bisa mencari laki-laki lain yang bisa dipegang kata-katanya, dan kau bisa mencari perempuan lain yang bisa kabar menunggu janji-janjimu!"

"Fem!"

"Menyesal aku telah membuang-buang waktuku dengan seorang pembual yang pengecut!"

"Jaga mulutmu! Kau menyinggung perasaanku!"

"Oh ya? Apakah kau tidak sekalipun menyakiti perasaanku?!"

"Sudah! Sudah! Cukup! Aku tak ingin bertengkar."

"Oh ya? Berarti kau memang belum mengenalku!"

"Sebaiknya aku pamit dulu. Mari kita tenangkan diri masing-masing." Dia menarik napas dan mengusap mukanya.

Kau melemparkan sebuah cibiran buruk. "Pergilah! Tak usah ke sini lagi. Aku sudah bosan melihatmu. Kau bukan laki-laki. Potong saja kemaluanmu!"

Dia tersengat mendengar ucapanmu yang kasar itu. Telinganya panas. Tak menyangka perkataan itu bisa keluar dari mulutmu. Kau sendiri juga terkejut dan merasa sangat menyesal dengan kata-kata yang terlanjur lepas itu. Belum sempat kau menarik ucapanmu, tiba-tiba tangannya telah mencekal lehermu membuat napasmu seperti akan putus. Kau ingin menjerit tetapi cengkeramannya begitu kuat. Rahangmu terasa perih. Tanganmu berusaha melepaskan tangannya, tetapi tenagamu sangat tidak sebanding dengan kekuatannya.

"Kau telah memancing kemarahan yang mati-matian kuredam!" Napasnya bergemuruh. Hidungnya mendengus-dengus seperti banteng siap menanduk. "Kenapa perempuan pandainya hanya membuat laki-laki jadi binatang?! Kukira kau seorang perempuan yang lembut dan sopan!"

Tanganmu mencakar dadanya. “Cuuh...!”

Wajahnya semakin mengeras melihat air ludahmu yang menyembur. Tangannya berayun.

Plaak! Plaak!

Tubuhmu luruh begitu saja ke tanah. Seperti tak punya tulang. Kau merasa jantungmu lepas. Baru sekali itu kau ditampar.

Dia tertegun. Napasnya tetap juga bergemuruh. "Kau... Kau membuatku marah...."

Kakinya tampak olehmu bergetar. Kau merasa tak mengenalnya sama sekali. Lalu kesedihan paling dingin mulai mencucuk hatimu. Kau berdiri. Sekilas menjenguk matanya, memastikan apakah dia memang kekasih plin-plan-mu yang selalu menunda-nunda hari pernikahan. Dia memandangmu dengan tatapan seorang kanak-kanak yang bersalah.

Asing.

Tanganmu menyentuh darah yang meleleh dari sudut bibirmu. Tubuhmu menggigil dan air matamu berloncatan.

***

"Maafkan aku, Fem. Aku sungguh ingin segera menikahimu. Hanya saja aku cemas akan seperti bapakku. Selalu memperlakukan istrinya dengan tangan yang keras." Itu yang ingin dia ucapkan padamu malam itu, tetapi kau telah berlari masuk ke dalam rumah dan menutup pintu.

Pagi ini kau menemukannya telah diam dengan mata seolah sedang bicara. Dia jatuh dari menara air, itu yang kaudengar dari para tetangga.

CERPEN~Cintaku di La Rambla.


Cintaku di La Rambla.



denganmu yang melingkar di jari manis

aku memulai perjalanan

namamu kupanggil

rindu ini membawaku kembali

kaudengar

barcelona...

senyum memiriskan hati

genggam tangan yang tiba-tiba

Bangku-bangku panjang masih tetap terisi. Tahun-tahun berlalu tak mengubah keramaian di sini. Birunya langit menepiskan gerak gemawan. Wajah-wajah kenangan selalu tersimpan di hati. Sekelompok laki-laki begitu asyik memandang kaki langit, seseorang di antaranya tengah mengambil gambar. Aku perhatikan mereka satu per satu. Adakah dirimu menyeruak dan memberiku sebuah senyuman? Aku melangkah meninggalkan mereka yang semakin riuh. Terdengar tawa-tawa yang renyah, seperti tawamu kala itu.

Bulan ini adalah ulang tahunmu. Perayaan yang selalu kaulupakan, tetapi aku akan terus mengingatkanmu. Memberimu sepotong banana cake, menuangkan segelas minuman beraroma keras, dan menemanimu sepanjang hari. Tujuh tahun lampau kita duduk di bangku panjang ini. Menikmati semilir angin yang datang dari jauh sana. Memanjakan mata-mata kita karena lanskap begitu memesona. Kita pun meneguk sedikit demi sedikit air dari Canaletes. Sebuah perjumpaan abadi.

Senja penuh senyuman. Aku kencangkan simpul tali jaket tebalku. Ranggas daun-daun berserakan di sepanjang jalan. Lihatlah gugurnya, memecah ingatan siapa saja yang pernah datang ke tempat ini. Langkah-langkah kucermati. Begitu santai menikmati bangunan-bangunan abad lampau, papan-papan reklame, penunjuk arah. Senja semakin gasal. Adakah jejakmu terbaca di lantai keramik petang ini.

Langkahku terhenti di kerumunan banyak orang. Jalan yang lebar jadi sempit. Seorang laki-laki beruban sibuk dengan berbagai warna di tangannya. Matanya menatap kanvas dengan tajam. Sebuah lanskap sedang dilukiskan. Aku melangkah mendekati berbagai lukisan yang telah jadi. Banyak wajah terpampang dengan manisnya. Kuperhatikan semua, barangkali saja aku temukan lukisan wajah dengan sepasang mata yang garang, wajah keras, kulit legam, dan potongan rambut yang rapi.

Seorang Catalan menyapa. Berbincang tentang jalan-jalan di La Rambla dan mengajakku menuju patung Columbus. Aku menolak dengan senyuman. Petang ini aku ingin sendiri. Mengenang jalan-jalan yang pernah kulalui denganmu, singgah di sebuah restoran, memilih majalah tua di kios-kios koran, bergenggaman tangan, mengenangkan seluruh peristiwa indah. Aku ingat ketika itu kau bersikukuh meminangku di sini.

La Rambla adalah lorong dunia. Sebuah tempat yang akan terus didatangi para pelancong. Kota yang menawarkan keunikan wajah dunia. Langkahku tak lelah menyisir trotoar. Menatap mata-mata ceria, atraksi-atraksi memikat hati, gerak waktu yang semakin mengabur. Kau masih ingat ketika kita berjalan di sepanjang Rambla del Estudis, Rambla Sant Josep, Rambla Caputxins, dan Rambla Sant Monica. Tepat di Rambla Canaletes kau meminangku dan janji setia pun terucap.

"Lam, kita pasti mendatangi tempat ini lagi."

"Mengapa kau begitu yakin. Bukankah perjumpaan kita hanya berbatas jarak? Jangan mengumbar janji Cal."

"Aku pegang janji, janji sebagai laki-laki. Beberapa tahun ke depan kita akan datang lagi ke tempat ini. Masih dengan cinta yang sama."

"Apa yang kamu harap di tahun itu?"

"Kita akan meneguk kembali air dari Canaletes, air perjumpaan."

"Ya. Seperti saat ini. Bukankah kita baru saja meneguk air perjumpaan."

"Kupastikan kita akan datang lagi ke tempat ini. Jaga cintamu Lam."

"Pasti. Akan kujaga bara itu dan akan kurawat cincin pemberianmu ini. Kita tak perlu berjanji untuk pertemuan itu bukan?"

"Ya, kita tak perlu berjanji. Karena takdir akan membawa kita kembali ke tempat ini. Aku yakin itu."

Kini perjalananku hanya ditemani cincin pemberianmu. Dia tetap melingkar manis menemani setiap langkahku. Menyusuri setiap kenangan yang telah kita jejak beberapa tahun yang lampau.

Dari bandara El Prat, pucuk-pucuk kerinduan semakin mengembang. Rindu itu menawarkan berbagai kisah. Keberangkatan yang sendiri telah menawan aku dalam sebuah rasa yang samar, namun ia semakin jelas. Rasa yang sering kali membuat hatiku sakit. Rasa yang terus kupupuk agar ia tak mati. Waktu adalah bumerang, sering kali melukai hati tanpa mengenal perih. Ya, rindu ini telah menjelaga.

Sosokmu telah kuurai ribuan kali dalam fantasiku. Malam-malam setelah lelah menyapa tubuh, aku larut bersama tubuhmu yang fatamorgana. Meluruhkan kerinduan demi kerinduan yang tak terbatas. Menikmati setiap gerak sublim tubuhmu, kulit kasar lelaki dan buai napas di dadamu. Berkali-kali aku memanggil namamu. Sebuah nama yang singkat, mudah diingat.

Sebenarnya aku belum lelah berjalan, tapi aku ingin duduk menikmati hembus angin. Barangkali saja aroma tubuhmu sampai di penciumanku. Langkahku berhenti di sebuah taman. Kepak burung-burung menemani sendiriku. Berseliweran memotong arah angin. Sayap-sayap putihnya membentuk siluet di angkasa.

Tanganku tak henti-hentinya membidik tingkah polah merpati-merpati itu. Kuatur picture size yang terdapat dalam kamera, aku ingin menghasilkan foto dengan kualitas cetak foto terbaik. Belum puas mengambil gambar satwa terbang itu, kuambil juga gambar bunga-bunga di taman, berbagai jenis dengan warna-warna khas. Tapi di sini tak kujumpai bunga kesukaanku. Suhu yang berbeda dengan negaraku tak dapat menumbuhkan bunga itu.

Kesiur angin mengantarkan aroma khas. Aku ingat benar ini bau tubuhmu yang sempat kautinggalkan di ruang tidurku. Aroma tubuh yang sering kali kuhirup dalam-dalam agar tak cepat pergi, menguap. Kucari-cari sosokmu di tempat ini barangkali saja kau ingin memberiku kejutan dengan kedatangan yang tak diduga. Kuperhatikan sekumpulan orang-orang, pohon-pohon, bayang-bayang yang semakin redup. Akh… kau tetap saja tak kutemukan.

Selesai dengan gambar-gambar yang kuambil aku melanjutkan pencarianmu. Kali ini aku kembali ke air mancur Canaletes. Barang kali kau menunggu di sana dan tengah meneguk percik air itu lagi agar tahun-tahun mendatang kau kembali ke sini. Kulihat pengunjung di sini semakin banyak. Petang yang selalu dinantikan.

Genggam tangan mereka--para lelaki dan perempuan--lagi-lagi mengingatkan aku akan dirimu. Begitu erat membentuk jalin kemesraan. Lengkung bibir yang menyiratkan betapa bahagianya mereka di sore yang semakin gigil. Langkahku pasti menuju Canaletes.

Ini adalah bulan kasih sayang. Sebuah perayaan bagi para pecinta sejati. Mungkinkah cupid-cupid itu tengah melakukan kerja nyata. Menaburkan panah-panah asmara di hati para kekasih. Februari yang damai, kau pun lahir di bulan ini dan tak pernah melakukan sebuah perayaan. Ini tahun keenam, tahun ketika aku merayakan ulang tahunmu tanpa kehadiran dirimu.

Semakin dekat langkahku menuju air mancur itu. Percik air di sana tak pernah terdengar, kalah oleh derap langkah, ceracau-ceracau berbagai bahasa, dan tawa-tawa kebahagiaan. Aku memperlambat gerak tubuhku. Mencermati setiap sisi. Besi-besi, penanda tempat, sudut-sudut tersembunyi. Hatiku berdebar. Seseorang berdiri memunggungiku. Rambutnya yang rapi membuat aku semakin gemetar. Sosokmu, ya itu sosokmu, yang damai menikmati semilir angin. Kau mulai beranjak. Kuperhatikan langkahmu. Tak membalikkan badan. Melangkah meninggalkan pancuran itu setelah puas meneguk air. Aku pun kecewa, itu bukan kau. Langkahmu tak pernah tersaruk-saruk seperti itu. Langkahmu selalu sempurna.

Kedatanganku yang sendiri kali ini selalu ditemani senyum ramah para Catalan. Mereka adalah penduduk Barcelona yang sering kali mengajakku berbincang. Dengan tak lancar aku melayani obrolan-obrolan seadanya. Tentang gedung opera yang berarsitektur neoklasik yang akan kudatangi. Gedung yang mengalami kisah tragis karena dua kali terbakar dan pernah dibom. Gedung opera Liceu yang dibuka kembali ketika kedatanganku yang lampau.

Aku mengelilingi air mancur Canaletes. Mencoba mengulur waktu untuk sebuah kehilangan. Kepergian yang tertunda karena sebuah janji. Sebuah kepercayaan. Kali ini aku tak meminum air di hadapanku. Membiarkannya begitu saja, aku tak ingin kembali lagi ke kota ini. Aku akan meninggalkan semuanya mulai saat ini. Bayang laki-laki yang kupanggil dengan sebutan Cal. Mengapa waktu itu aku tak berjanji dengannya. Mengapa membiarkan datangnya sebuah keajaiban.

Kumainkan kamera, mengambil jejak-jejak kenangan agar semua mengabadi. Menyetel fitur intensitas cahaya dan memilih florescent. Segera kutinggalkan Canaletes menyusur ke arah laut. Kembali melewati deretan gedung-gedung.

Benderang lampu mulai menyapa mataku. Kemilaunya mengingatkan aku pada cincin pemberianmu. Ia masih melingkar dengan manis. Dua inisial nama kuperhatikan baik-baik. Dua huruf yang membentuk bentangan layar sebuah kapal. Aku selalu ingat ceritamu tentang laut. Pelaut-pelaut yang tak pernah takut mengarungi samudra dan itu yang membuat kita berjarak. Kau memilih tinggal bertahun-tahun di perairan. Menjadi nakhoda dan melupakan daratan.

Kini di hadapanku berdiri kokoh seorang Genoa. Patung Columbus yang menunjuk ke laut lepas. Laut yang bagimu adalah rumah, tempat akhir sebuah perjalanan. Kuperhatikan langit saat ini begitu sendu. Sempat juga kupandangi sepasang kakek-nenek yang hendak pulang. Kembali ke rumah untuk beristirahat.

Entah mengapa aku masih bertahan di sini. Menyaksikan pepohonan yang hanya menyisakan ranting-ranting, deretan mobil-mobil yang teratur rapi, pejalan-pejalan yang mungkin tak pernah lelah. Pandanganku tetap mengarah ke ujung patung. Mencari titik yang tepat untuk diabadikan. Kudengar suara langkah yang tersaruk-saruk. Tak kuhiraukan karena konsentrasiku berada di ujung kamera. Blitzz! Renyai cahaya dari bidikan kamera menyilaukan mataku.

"Lam...." tiba-tiba saja tanganku digenggam begitu erat."

CERPEN~Lelayu.



Lelayu.


BERITA kematian itu datang dengan datar dan tanpa tekanan. Mungkin karena lelah mencariku. Mungkin karena aku pernah mendengarnya, entah kapan. Ya, kataku, aku akan pulang. Tapi tidak malam ini. Aku sedang rapat akhir tahun di Kota S. Kota yang terlalu kecil untuk bisa mengantarku pulang di tengah malam hujan seperti ini. Telepon kumatikan, dan aku kembali melanjutkan percakapan dengan teman-temanku, yang sempat terputus.

Tak ada apa-apa, kataku, ketika seorang teman, entah tahu dari mana, bertanya, ''Ada apa?'' Lalu kami kembali larut dalam percakapan. Tertawa, saling mengejek kembali sembari menyusun rencana-rencana tahun depan. Tapi jari-jariku tanpa kupesan telah menulis pesan, 'Bisa enggak aku pulang seharian besok, nenekku meninggal'. Lalu pintu kamar diketuk, penerima pesan yang bertengkuluk itu menjawab langsung, ''Ya, kamu bisa pulang besok pagi, kamu bisa pakai mobil hotel.'' Lalu sejumlah ucapan dukacita kuterima.

Pagi-pagi aku telah dibangunkan. Mobil telah siap, katanya melalui ponselku, bukan mobil hotel, mereka tidak bisa menyediakannya hari ini, tapi aku telah mendapatkan mobil yang lain. Ya, sebentar. Aku bersiap sebentar. Aku turut berduka, katanya, lewat pesan pendek. Terima kasih. Dan selanjutnya adalah jalan-jalan yang basah sehabis hujan, menikung-nikung di sela pegunungan yang masih berselimut kabut. Kota S memang terletak di lembah yang disusun sejumlah gunung. Aku diam sepanjang perjalanan, menyusur rute yang tadi malam ditempuh berita kematian nenekku, mengumpulkan lagi sejumlah kenangan tentangnya.

Di perjumpaan terakhir, ia bahkan sudah lupa siapa aku, cucu emasnya. Ia mengira aku penjual mi ayam yang saban hari lewat di depan rumahnya. Aku tertawa, sebagaimana aku biasa menertawakannya. Bedanya, saat itu aku tertawa karena tidak tahu harus berbuat apa. Aku tak bisa mengerti, kenapa dengan mudahnya ingatan seseorang terhapus begitu saja tanpa sisa. Sementara beberapa bulan yang lalu, ketika Lebaran, ketika aku datang dengan istri dan anakku, ia masih sanggup mengingat seluruh nama kami dengan benar.

Semuanya berlangsung dengan cepat, Wang, kata budeku, kakak perempuan ayahku yang tertua. Aku sekarang tinggal di sini untuk menemani nenekmu. Ke mana-mana ia harus ditemani. Aku segera teringat anakku yang membuat aku dan istriku sering bersitegang tentang siapa di antara kami yang harus menemaninya. Aku mengangguk-angguk mendengar penjelasan bude. Membayangkan kesulitannya. Bude tinggal di Kota C, kota kecil di tepi pantai, berjarak 5 jam perjalanan dari kota J, tempat kami tinggal. Bude menggantungkan hidupnya dari membuka warung kelontong kecil di kampungnya. Dan sekarang ia harus ditopang anak-anaknya untuk bisa terus-menerus menemani nenekku. Seluruh penjelasan bude bernada keluhan, juga pertanyaan kenapa bukan kami yang tinggal satu kota yang menemani nenek. Aku pergi dengan sejumlah perasaan bersalah. Itulah terakhir kali aku bertemu dengan nenekku.

Sebelumnya, aku jarang sekali bisa bertemu dengan nenek. Hanya di hari Lebaran aku bisa yakin bertemu dengannya. Selebihnya adalah ketidaktepatan. Dua tahun terakhir sebelum hari kematiannya, nenekku memutuskan untuk bolak-balik dari Kota J dan C. Dua minggu di J dan dua minggu di C. Demikian seterusnya. Ia merasa hari akhirnya sudah dekat, dan merasa perlu berdekat-dekatan dengan seluruh anak-anaknya. Suaminya, kakekku, sudah lama pergi mendahului, 18 tahun yang lalu. Aku sempat 5 tahun tinggal bersama nenek, ketika secara kebetulan ibuku menyusul kakekku dua bulan setelahnya. Inilah yang membuatku memiliki hubungan khusus dengan nenekku, jika dibandingkan dengan cucu-cucunya yang lain. Nenekku merasa berutang padaku karena kakekku mengajak ibuku pergi ke alam kematian. Ia membayangkan di sana ibukulah yang merawat dan menemani kakekku. Maka ia pun harus berbuat demikian terhadapku. Selain juga, dan ini yang lebih bisa diterima, aku masih terlalu kecil untuk hidup tanpa seorang ibu.

Hubungan intim ini hanya berlangsung 5 tahun. Ayahku kawin lagi dan aku harus kembali serumah dengannya. Tak ada alasan lagi bagiku untuk tetap tinggal bersama nenek. Hanya beberapa bulan aku betah tinggal di rumah. Setelah hampir saban hari bertengkar dengan ibu baru, aku memutuskan pergi. Tapi bukan ke rumah nenek.

Masih lama, Pak? Tanyaku kepada sopir yang membawaku. Bentar lagi, Mas. Ini sudah masuk M. Hujan memperlambat kita. Tadi waktu saya berangkat menjemput tidak selama ini kok. Tentu saja aku cuma basa-basi. Aku malah tak ingin cepat-cepat sampai. Tenang, Mas. Sampai pada waktunya kok. Dimakamkan pukul 10 kan? Aku mengangguk. Dan menyalakan rokok. Boleh ngrokok kan, Pak? Tanyaku. Sekali lagi basa-basi. Gak pa-pa, Mas. Saya juga ngrokok kok. Ia juga menyalakan rokok. Lalu ruangan kami pun turut berkabut. Dalam kepalaku juga berkabut.

''Ibumu sudah berani kurang ajar,'' kata nenekku, suatu saat ketika aku diam-diam menjenguknya di awal-awal pelarianku. Ibuku? Kataku. Aku selalu tak terima jika perempuan yang dikawini ayahku itu disebut-sebut sebagai ibuku. Ibuku sudah meninggal, kataku kepada nenek yang tentu saja sudah tahu, sebagaimana ia tahu bahwa suaminya sudah meninggal. Ia berani mengusirku dari rumahku. Tambah nenekku dengan bersungut-sungut. Perempuan macam apa itu? Beda banget dengan ibumu yang dulu. Ia menyelipkan beberapa lembar uang ribuan ke sakuku ketika aku pamit pergi. ''Hati-hati. Jangan mabuk-mabukan di jalan kayak preman. Pesannya.'' Aku mengangguk dan tak pernah memenuhi pesannya. Ia tak pernah tahu. Ia juga tak tahu bahwa aku selalu mencopot antingku sesaat sebelum bertemu dengannya. Jangan sampai tahu. Bahwa duit-duit yang selalu diselipkannya ke sakuku selalu berubah menjadi batangan-batangan rokok dan kadang lebih parah dari itu, batangan-batangan rokok yang lebih kecil yang membuatku bisa melupakan nenekku.

Dari tahun ke tahun tak ada yang berubah. Nenekku masih terus bersungut-sungut jika membicarakan istri ayahku hingga ia pada saatnya lelah dan terselap. Hanya aku yang mulai berubah. Aku sudah berani merokok di depannya. Aku tak perlu mencopot antingku jika bercengkerama dengannya. Aku mulai berani meninggalkannya hingga kabar kematiannya berhasil menemukanku, beberapa saat yang lalu.

Jalan ditutup. Bendera putih. Mobil yang mengantarku tak bisa masuk sampai ke depan rumah duka. Dua orang sepupuku langsung menyambutku. Aku berjalan cepat melintas di depan kursi-kursi pelayatan yang hampir seluruhnya terisi. Aku terus berjalan. Sesekali berhenti untuk berjabat tangan. Hanya tangan-tangan kanan. Tanpa nama tanpa wajah. Aku langsung menuju rumahku yang terletak di samping rumah nenekku. Meletakkan tas dan mencuci muka. Lalu segera bergabung dengan mereka yang berduka, paman, bibi, dan sejumlah sepupuku. Aku bahkan belum melihat ayahku.

Ia meninggal dengan tenang, kata bude. Kemarin siang ia memintaku mengantarnya ke tempat tidur. Lalu ia tidur dan tak pernah bangun lagi. Kami sudah berusaha meneleponmu tapi tak bisa. Baru malamnya masmu bisa mengontakmu. Aku manggut-manggut. Seperti mendengar nenekku sendiri yang bercerita tentang kematiannya. Budeku yang sekarang diam-diam mengingatkanku pada nenek 18 tahun yang lalu, saat ia merawatku. Bude terus bercerita, sebagaimana terakhir kali aku bertemu dengannya, tapi kali ini tak ada nada keluh. Aku hanya mencium kesedihan, juga kelegaan. Entah mana yang paling keras dan santer.

Seseorang memanggilku. Ayahku. Memintaku salin baju. Aku baru sadar bahwa pakaianku tak layak untuk hadir dalam upacara kesedihan. Aku masih memakai oblong yang sejak kemarin pagi sudah kukenakan. Aku tak bawa baju, kilahku. Kesedihan tak pernah punya pakaian, batinku. Tapi aku menurut saja ketika ia menggandengku ke kamarnya. Memilih kemeja yang seukuran dengan badanku.

Mana anak-istrimu? Aku tahu ia akan menanyakannya. Tetap saja aku kebingungan menjawabnya. Karena kupikir mereka sudah berangkat sendiri ke sini. Aku cuma bilang bahwa aku dari Kota S, tergesa-gesa dan tak sempat mampir ke rumah. Aku tak bilang bahwa kami sudah pisah rumah selama satu tahun ini. Kemarin sore adikmu ke rumahmu. Tapi kosong. Ya. Kataku tak sedang menjawab apa-apa.

Aku mengambil sebuah tempat duduk. Merokok. Menyibukkan diri dengan kematian-kematian yang lain. Yang tak kalah menyedihkan. Tapi tetap saja aku tak mampu menamai perasaanku saat ini. Perasaan yang sama ketika kakekku meninggal, ibuku meninggal dan istriku meninggalkanku. Aku tak pernah mengenalinya, meski sudah berulang kali mendatangiku. Biarlah. Toh aku tak akan memanggilnya. Biarlah ia datang jika memang ingin menemuiku.

Aku masih tetap duduk di tempat yang sama ketika keranda nenekku dibawa ke halaman. Aku sibuk mengingat-ingat di mana aku duduk pada kematian-kematian sebelumnya.